Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan mengatakan inovasi tempe hingga dapat diekspor menjadi contoh penguatan kebermanfaatan riset bagi masyarakat dan ekonomi nasional guna mencapai target-target pembangunan.
Tim periset Universitas Indonesia (UI) mengembangkan inovasi ragi tempe melalui Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek) Kemendiktisaintek dengan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Fauzan mengatakan dalam acara Ragi Nusantara di Antara Heritage Center, Jakarta, Rabu, pengembangan tempe bisa menjadi salah satu contoh bagaimana riset perguruan tinggi memberikan dampak nyata. Menurut dia, riset yang sudah tersedia perlu dilanjutkan dengan inovasi produk dan pengembangan industri.
Baca juga: Forum Tempe rekomendasikan agar tempe jadi inovasi masa depan
“Riset sudah ada. Bahan sudah ada. Inovasi produknya nanti bisa kita buat,” kata Fauzan.
Dia menyoroti terbatasnya produk tempe dan paling banyak ditemukan hanya seputar keripik dan botok. Oleh karena itu, perlu adanya terobosan agar tempe dapat menembus pasar ekspor dan memberikan dampak ekonomi.
Terlebih, katanya, Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029, dan Indonesia Emas pada 2045. Fauzan menilai, ini bukan hal yang mudah dicapai, dan perlu adanya perubahan paradigma tata kelola pendidikan tinggi untuk mencapai ini.
Fauzan menekankan bahwa riset berdampak tidak cukup hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga harus memberikan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat, termasuk melalui peningkatan nilai ekonomi.
Dia menjelaskan inovasi tempe tersebut sejalan dengan upaya Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) untuk menggeser paradigma pendidikan tinggi agar tidak hanya menjadi tempat produksi ilmu pengetahuan.
Baca juga: FMIPA UI kembangkan ragi tempe adaptif untuk hadapi perubahan iklim
Baca juga: Kemendag: Tempe berpeluang jadi produk unggulan di pasar AS
“Kita tinggal cari off-taker industri yang mampu memproduksi tempe kelas ekspor, dan nanti namanya Tempe Bestari Saintek. Ini baru dikatakan riset berdampak. Jadi berdampak itu harus kita akhiri. Apakah memiliki value meningkatkan harkat martabat ekonomi atau tidak? Kita harus punya definisi itu,” ujarnya.
Menurutnya, perguruan tinggi perlu mampu memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan. Karena itu, inovasi di bidang tempe perlu diarahkan agar produk yang selama ini dikenal sebagai makanan lokal dapat berkembang menjadi komoditas global.
Dia berharap kegiatan dan riset yang dilakukan perguruan tinggi tidak berhenti pada kegiatan akademik atau seremoni, tetapi memiliki manfaat praktis, khususnya dalam menjawab kebutuhan ekonomi dan pengembangan bisnis.
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































