Jakarta (ANTARA) - Universitas Pelita Harapan (UPH) melalui Program Studi Teknologi Pangan berupaya mewujudkan ketahanan pangan bangsa lewat diselenggarakannya Food Explore 17 bertema “From Lab to Table: The Future Food”.
"Bertepatan dengan Dies Natalis Prodi Teknologi Pangan UPH yang ke-30, saya berharap para mahasiswa terus mengembangkan ide-ide cemerlang yang dapat berkontribusi nyata bagi bangsa," kata Rektor UPH Dr. (Hon.) Jonathan L. Parapak dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu.
Dalam ajang yang berlangsung pada 5–8 November 2025 itu mahasiswa menghadirkan beragam inovasi pangan lokal baik nabati maupun hewani alternatif yang diolah menjadi produk bergizi, lezat, bernilai ekonomi tinggi, dan ramah lingkungan.
Ajang itu menghadirkan Food Exhibition, Foodie Battle (kompetisi Debat dan Cerdas Cermat bagi siswa SMA/K dari berbagai daerah), serta seminar nasional yang mengangkat isu dan tren pangan masa depan.
Baca juga: Kepulauan Seribu latih warga lakukan diversifikasi olahan pangan
Sebagai highlight utama, Food Exhibition menampilkan 15 inovasi pangan masa depan hasil kreasi mahasiswa. Tahun ini, fokus pengembangan produk tertuju pada pemanfaatan sumber pangan alternatif yang selama ini kurang umum digunakan, mulai dari tutut (keong sawah), nangka muda, hingga belalang sebagai sumber protein masa depan.
Beberapa produk unggulan yang menarik perhatian antara lain Jack’D (Jackfruit Jerky). Inovasi makanan berbasis nangka muda ini menjadi alternatif “daging” dengan tekstur kenyal dan cita rasa manis-gurih layaknya bak kwa khas Asia.
Selain kaya nutrisi, Jack’D menunjukkan bahwa makanan berbasis nabati dapat tampil lezat, modern, dan lebih ramah lingkungan.
Terdapat pula Kaeviar (caviar belalang) atau produk yang terinspirasi dari tren global pemanfaatan protein serangga dalam industri pangan.
Baca juga: Saatnya padi hibrida menjadi pilar ketahanan pangan Nasional
Belalang diolah menjadi bubuk protein dan dibentuk menyerupai caviar, sehingga dapat menjadi topping sushi atau nasi dengan sentuhan rasa gurih. Kaeviar pun disebut sebagai gambaran konkret dari arah inovasi pangan masa depan yang lebih berkelanjutan.
Selain lima produk tersebut, sejumlah inovasi lain turut hadir dengan memperkenalkan potensi kekayaan hayati Indonesia melalui pendekatan pangan fungsional.
Beberapa di antaranya dirancang untuk mendukung gaya hidup sehat masyarakat urban, seperti produk tinggi protein, kaya probiotik, serta pangan rendah gula untuk konsumen dengan kebutuhan khusus seperti penderita diabetes dan hipertensi.
Kompetisi tahunan itu diikuti oleh 39 siswa dari 13 tim yang berasal dari berbagai SMA di Jabodetabek, masing-masing beranggotakan tiga orang. Tahun ini, para peserta diuji melalui dua bentuk tantangan cerdas cermat dan debat yang menilai kemampuan berpikir kritis, pengetahuan seputar pangan, serta kemampuan berargumentasi.
Dari seluruh penilaian, SMA Saint John Catholic School berhasil meraih juara pertama berkat kecerdasan, ketepatan, serta argumen yang kuat dan logis dalam setiap sesi kompetisi.
Baca juga: Mendagri: Pemda harus lindungi persawahan demi ketahanan pangan
Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































