Jakarta (ANTARA) - Setiap kali banjir bandang melanda, pemandangan batang-batang pohon besar yang hanyut dan saling bertabrakan di arus deras kerap menimbulkan keheranan sekaligus kegelisahan.
Pohon yang selama ini dipahami sebagai penjaga alam, penahan erosi, dan pelindung daerah aliran sungai, justru tampak menjadi bagian dari daya rusak bencana.
Pertanyaan pun muncul, mengapa pepohonan itu bisa tumbang dan hanyut dalam banjir bandang, bahkan memperparah dampaknya bagi permukiman dan infrastruktur?
Fenomena ini tidak dapat dijelaskan secara sederhana dengan sekadar menyalahkan besarnya volume air.
Tumbangnya pohon dalam banjir bandang merupakan hasil dari rangkaian proses fisik yang saling berkaitan dan berlangsung jauh sebelum batang itu akhirnya roboh.
Kuncinya terletak pada kegagalan sistem tanah, air, dan vegetasi yang bekerja secara berurutan, perlahan, dan sering kali tidak terlihat.
Tidak ada satu angka curah hujan yang secara otomatis dapat dikatakan sebagai pemicu tumbangnya pohon.
Namun, berbagai kajian hidrologi dan geomorfologi menunjukkan bahwa hujan ekstrem, baik dalam bentuk intensitas sangat tinggi maupun akumulasi besar dalam waktu singkat, secara signifikan meningkatkan risiko keruntuhan vegetasi.
Baca juga: Tumpukan batang pohon memenuhi Kali Mati di Adonara Timur usai banjir
Baca juga: Banjir bandang di Kabupaten Langkat hanyutkan pohon kayu
Di wilayah tropis, hujan dengan intensitas lebih dari 40 hingga 50 milimeter per jam, atau akumulasi sekitar 150 hingga 200 milimeter dalam satu sampai dua hari, sudah cukup untuk membuat tanah kehilangan sebagian besar kekuatannya, terutama di lereng curam dan tepi sungai.
Pada kondisi tersebut, tanah yang semula kokoh berubah menjadi medium yang rapuh sebagai menopang akar.
Baca juga: Di kawasan rehabilitasi DAS, KLHK dorong penanaman MPTS
Baca juga: 52 Juta Hektare Hutan Indonesia Rusak
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































