Tantangan memenuhi gizi anak setelah lepas ASI

2 weeks ago 3
Yang tidak kalah penting, anak belajar dari apa yang mereka lihat. Kebiasaan makan keluarga merupakan pendidikan gizi pertama yang diterima anak.

Jakarta (ANTARA) - Memasuki usia dua tahun, anak berada pada fase penting dalam pertumbuhan. ASI yang sebelumnya menjadi salah satu sumber asupan telah berhenti, sementara aktivitas anak semakin tinggi.

Mereka mulai lebih banyak bergerak, bermain, dan mengeksplorasi lingkungan. Pada saat yang sama, banyak orang tua justru menghadapi persoalan baru ketika anak mulai pilih-pilih makanan, susah makan, atau melakukan gerakan tutup mulut (GTM).

Situasi tersebut kerap menimbulkan kecemasan. Orang tua sudah menyiapkan makanan dengan baik, tetapi anak hanya mencicipinya sedikit atau bahkan menolaknya.

Namun, fase susah makan tidak semestinya membuat perhatian hanya tertuju pada seberapa banyak makanan yang mampu dihabiskan anak. Hal yang tidak kalah penting adalah memperhatikan kualitas dan keragaman zat gizi yang diperoleh anak sepanjang hari.

Pada periode ini, anak membutuhkan energi dan berbagai zat gizi untuk menunjang pertumbuhan fisik sekaligus perkembangan otak. Protein, zat besi, vitamin C, kalsium, vitamin D, zinc, DHA, serta asam lemak Omega-3 dan Omega-6 merupakan beberapa zat gizi yang perlu diperhatikan.

Zat besi, misalnya, merupakan mikronutrien penting yang berperan dalam berbagai fungsi tubuh, termasuk mendukung perkembangan kognitif anak.

Sementara itu, vitamin C membantu meningkatkan penyerapan zat besi sehingga dapat dimanfaatkan tubuh secara lebih optimal. Karena itu, kombinasi sumber zat besi dan vitamin C dalam pola makan anak menjadi penting.

Kebutuhan tersebut sebaiknya dipenuhi melalui pola makan yang beragam. Susu bukan satu-satunya sumber gizi dan tidak dapat menggantikan makanan utama.

Namun, bagi sebagian keluarga, susu tetap menjadi bagian dari pola makan sehari-hari, termasuk ketika anak sedang mengalami fase sulit makan.

Jika memberikan susu, orang tua sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan rasa yang disukai anak. Kandungan gizinya juga perlu dibaca dan dipahami. Zat besi dan vitamin C, DHA serta asam lemak Omega-3 dan Omega-6, protein, kalsium, vitamin D, serta zinc dapat menjadi beberapa kandungan yang diperhatikan sesuai kebutuhan anak.

Prinsip yang lebih penting adalah tidak menggantungkan kecukupan gizi pada satu jenis makanan atau minuman. Anak perlu diperkenalkan pada beragam bahan pangan sejak dini.

Fase sulit makan justru dapat menjadi kesempatan bagi keluarga untuk membangun kebiasaan makan yang lebih baik, dengan tetap mengedepankan kesabaran dan konsistensi.

Baca juga: Waspadai transisi minuman anak, Ahli: 8 dari 10 anak kekurangan DHA

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |