Jakarta (ANTARA) - Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mengatakan bahwa peninjauan menyeluruh terhadap situs-situs Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, sejalan dengan percepatan revitalisasi Museum Majapahit.
"Kementerian Kebudayaan berkomitmen menghidupkan kembali studi narasi sejarah Majapahit secara utuh, menjaga pelestarian cagar budaya, serta menjadikan Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Trowulan sebagai pusat edukasi dan penelitian peradaban Nusantara yang komprehensif,” ujar Fadli Zon dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin.
Peninjauan di kawasan itu difokuskan pada penguatan riset peradaban, penyelamatan artefak autentik, serta pemugaran struktur penting ibu kota Kerajaan Majapahit, di antaranya Situs Sumur Upas Sentonorejo dan Situs Bhre Kahuripan (Klinterjo).
Baca juga: Cak Daya Masuk Desa ditargetkan bisa memajukan KCB Trowulan
Dalam peninjauan Situs Sumur Upas Sentonorejo, Menbud juga memaparkan hasil analisis teknologi pemetaan LiDAR atau Light Detection and Ranging serta ekskavasi arkeologis terkini yang mengindikasikan wilayah tersebut sebagai pusat Kedaton (Kota Raja) atau "titik nol" peradaban Majapahit.
Di kawasan tersebut, ditemukan struktur hunian elit bangsawan dan raja dengan tata kelola air serta infrastruktur modern pada zamannya, mencakup sistem petirtaan, saluran pengairan, terakota, batu bata, dan plesteran kapur. Temuan itu selaras dengan peta tata ruang dalam Kitab Kakawin Nagarakretagama Pupuh 8 serta naskah perjalanan Bujangga Manik.
"Berdasarkan hasil pemetaan LiDAR dan ekskavasi, wilayah Sentonorejo ini merupakan titik nol kota raja Majapahit dengan infrastruktur yang sudah sangat modern. Bahkan ditemukan enam lapisan peradaban di dalam tanah yang membuktikan tempat ini telah digunakan secara berkelanjutan dari waktu ke waktu," ujar Fadli Zon.
Rangkaian peninjauan dilanjutkan ke Situs Bhre Kahuripan (Klinterjo). Di lokasi ini terdapat yoni monumental berukir kepala naga (Yoni Naga Raja) yang berangka tahun 1294 Saka (1372 Masehi) dan diduga merupakan yoni terbesar di Nusantara.
Terdapat juga denah mandala berbentuk segi delapan yang memperkuat catatan sejarah dalam naskah kuno Pararaton terkait toponimi kawasan pendharmaan Giri Pantarapura.
"Di Situs Bhre Kahuripan terdapat yoni berukir kepala naga yang sangat besar berangka tahun 1294 Saka (1372 M). Ini menjadi prasasti yang sangat konkret mengenai lokasi pendharmaan Ratu Tribhuwana Tunggadewi. Kementerian Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) terus melakukan ekskavasi dan pemugaran struktur pagar serta kawasan situs ini," kata dia.
Pelestarian situs Bhre Kahuripan kini menjadi bagian penting dari studi komprehensif yang tengah dikembangkan oleh tim ahli.
Fadli Zon menggarisbawahi bahwa penelitian sejarah di Situs Bhre Kahuripan tidak hanya bertujuan untuk merawat fisik cagar budaya, namun, juga untuk menyusun narasi sejarah peradaban Nusantara yang edukatif dan bernilai tinggi bagi masyarakat.
Baca juga: Fadli Zon mengungkapkan ahli belum temukan pusat kerajaan Majapahit
Baca juga: Fadli akui telah mulai lakukan penataan dan pendataan Museum Majapahit
Baca juga: Koleksi era Majapahit Pura Mangkunegaran siap hadir di museum AS
Pewarta: Sinta Ambarwati
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































