Jakarta (ANTARA) - Konflik di Sudan menuai sorotan dunia setelah lebih dari 2.000 orang dilaporkan tewas dalam waktu singkat di El Fasher, Provinsi Darfur Utara, Sudan.
Insiden tersebut terjadi hanya dalam kurun waktu 48 jam setelah kota tersebut secara penuh diambil alih oleh Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces/RSF) pada 26 Oktober.
Sementara itu, lebih dari 390.000 warga terpaksa mengungsi, kata juru bicara Tentara Pembebasan Sudan pro-pemerintah, Agad bin Kony, kepada RIA Novosti pada Kamis (30/10).
Menurut Daily Mail, jumlah total korban tewas tidak dapat segera dikonfirmasi, namun citra satelit yang diambil setelah penyerangan menunjukkan bukti adanya pembunuhan massal dengan genangan darah dan tumpukan mayat yang dapat terlihat dari luar angkasa.
Perang yang kini melanda Sudan berakar dari perebutan kekuasaan antara dua kekuatan militer di negara Afrika itu, yakni Angkatan Bersenjata Sudan (Sudanese Armed Forces/SAF) dan pasukan paramiliter RSF.
SAF dipimpin oleh Panglima Militer Abdel Fattah al‑Burhan, sedangkan RSF dikomandani oleh Mohamed Hamdan Dagalo yang dikenal dengan nama Hemedti.
Baca juga: PBB desak penghentian sementara konflik di Sudan demi kemanusiaan
RSF dibentuk pada tahun 2013 oleh mantan Presiden Omar al-Bashir yang digulingkan pada tahun 2019 untuk menumpas pemberontakan di wilayah pedalaman. Pasukan ini berakar dari milisi Janjaweed, yang pernah dituduh melakukan kejahatan perang dan pembersihan etnis pada awal tahun 2000-an.
Seiring waktu, RSF kemudian menjelma menjadi kekuatan militer besar, bahkan menyaingi militer resmi Sudan, SAF. Ketegangan keduanya memuncak ketika pemerintah transisi Sudan berencana mengintegrasikan RSF ke dalam SAF sebagai bagian dari perjanjian menuju pemerintahan sipil pada akhir tahun 2022.
Hemedti namun menolak rencana itu karena khawatir kehilangan kekuasaan dan otonomi pasukannya. Perselisihan tersebut berubah menjadi perang terbuka SAF dan RSF pada 15 April 2023, yang meletus di ibu kota Sudan, Khartoum. Kemudian dalam hitungan hari, pertempuran menyebar ke kota-kota lain seperti Darfur, Kordofan, dan wilayah lainnya.
Sejak meletus, pertempuran itu telah menewaskan puluhan ribu orang dan menyebabkan lebih dari jutaan warga mengungsi. Adapun insiden berdarah di El Fasher menjadi puncak terbaru dari konflik dua tahun antara RSF dan SAF, yang membuat Sudan kian terjerumus ke dalam krisis kemanusiaan.
Baca juga: Tentara Sudan kembali kuasai istana kepresidenan di Khartoum
Baca juga: Badan Kemanusiaan PBB khawatir soal eskalasi konflik di Sudan
Pewarta: Melalusa Susthira Khalida
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































