Surabaya (ANTARA) - Hari Lingkungan Hidup Nasional (HLHN) diperingati setiap tanggal 10 Januari. Salah satu ruang refleksi terhadap lingkungan hidup (LH) adalah karya sastra. Sebab, karya sastra –lisan maupun tulis— seringkali bersuara tentang beragam aspek kehidupan manusia yang rumpang, termasuk LH.
Dalam pandangan ekologi sastra, karya sastra dapat digunakan untuk refleksi estetis terhadap realita LH; menghidupkan hati dalam membaca dampak negatif perusakan LH; ruang berpikir imajinatif yang humanis; hingga tempat ekspresi kritik dalam beragam ketajaman.
Ketika isu pagar laut mengemuka di awal 2025, terbit buku kritik LH berupa kumpulan cerpen "Lelaki Tua yang Mencintai Flor De Mar", yang merupakan kumpulan cerpen hasil lomba bertema Pagar Laut.
Sebelumnya, pada tahun 2023, ada buku menarik yang diterbitkan penerbit BRIN berjudul "Sastra dan Ekologi". Sebuah buku yang menghadirkan tulisan-tulisan hasil kajian para penulis tentang hubungan timbal balik antara manusia dan alam sekitar (lingkungan) dalam berbagai karya sastra.
Karya sastra yang diulas, ada semacam ajakan melestarikan alam atau kritik terhadap eksploitasi yang dilakukan manusia. Pendek kata, pesan yang ingin disampaikan adalah bagaimana karya sastra bisa dimanfaatkan dalam menyerukan kegiatan pelestarian LH.
Potensi ekologi sastra
Ekologi sastra adalah bidang interdisipliner yang menghubungkan ilmu sastra dan LH. Sastrawan, secara sosiologis, terikat oleh latar sosial kehidupannya, hal-hal penting dikritisi, diinternalisasikan, dan diekspresikan ke dalam karya sastra; baik puisi, cerpen, serta novel. Dari jangkar masa lalu, misalnya, begitu banyak cerita lisan bermuatan pesan tentang LH.
Sebagaimana disadari, keselarasan antara alam dan manusia sudah terajut sejak dahulu kala. Manusia sering merasa tidak berdaya oleh kekuatan alam, tetapi bisa jadi juga terpesona oleh kemolekan dan bergantung pada alam semesta. Tidak mengherankan bahwa nenek moyang telah mengajarkan bagaimana pentingnya harmonisasi manusia dengan lingkungan.
Ingat, bagaimana filosofi dasar keselarasan manusia-alam melandasi kebudayaan dan peradaban manusia. Dalam kebudayaan Jawa, keselarasan itu ditunjukkan pada ajaran yang dibangun dalam hubungan saling terkait antara Tuhan, manusia, dan alam semesta. Relasi makrokosmos dan mikrokosmos.
Bagi orang Jawa, makrokosmos adalah "jagat gedhe" (dunia besar), alam semesta dan mikrokosmos sebagai "jagat cilik" (dunia kecil). "Jagat gedhe" dan jagat cilik merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Manusia sebagai jagat cilik terbentuk dari anasir-anasir semesta ("jagat gedhe"), seperti air, api, tanah, angin, dan sebagainya.
Kesadaran keberadaan manusia dalam konteks "bersatu dengan alam", salah satunya dapat diulik-petik kala menikmati karya-karya sastra yang bisa menyentuh jiwa.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































