Surabaya (ANTARA) - Sejak lahir pada 1926, Nahdlatul Ulama (NU) memiliki jejak yang bermakna dalam perjalanan bangsa Indonesia, karena NU memberikan andil besar dalam terwujudnya kemerdekaan Republik Indonesia.
Tidak hanya itu, NU juga memiliki peran kebangsaan dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila, serta dalam pembangunan peradaban Islam yang ramah terhadap keberagaman.
Dalam konteks nasional, NU menolak keras gerakan Darul Islam (DI) yang dipimpin Kartosoewirjo pada era 1940-an. Para ulama di NU, termasuk KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971), menyebut DI sebagai bughot (pemberontakan) yang harus dibasmi karena bertentangan dengan persatuan dan kesatuan bangsa.
Dalam konteks internasional, NU, atas restu Hadratus Syaikh KHM Hasyim Asy’ari, membentuk Komite Hijaz yang dipimpin KH Abdul Wahab Chasbullah untuk mengusung kebebasan bermazhab dalam ibadah di Makkah, melindungi makam Nabi Muhammad SAW dari penghancuran, dan memperbaiki pelaksanaan ibadah haji. Ketiga usulan ini diterima.
Sebagai penjaga tradisi Islam yang ramah, NU membangun konsep keberagamaan dengan tiga fondasi utama, yakni amaliyah (praktik), firkah (ideologi), dan harakah (gerakan).
Prinsip amaliyah mencakup praktik keagamaan dan sosial yang didasarkan pada al-Quran, sunnah, dan tradisi para ulama salaf yang terangkum dalam ajaran Ahlussunnah Waljama'ah.
Dalam prinsip firkah, NU mengusung nilai-nilai dasar, yakni tasamuh (toleran), tawassuth (moderat), tawazzun (seimbang), dan ta’addul (adil). Hal ini terefleksi dalam respons NU terhadap berbagai kontestasi ideologi, perubahan sosial, dan dinamika keagamaan di Tanah Air.
Terkait harakah/gerakan, NU berkepentingan untuk terus melakukan penguatan ideologi, amaliyah, sumber daya manusia, budaya, ekonomi, kesehatan warga, dan aspek-aspek lain yang sejalan dengan khittah NU dalam prinsip NKRI dan Pancasila.
Tanggal 31 Januari 2026 yang menandai perjalanan satu abad NU (1926-2026) membuktikan bahwa organisasi ini telah memberikan banyak kontribusi dan sumbangsih bagi bangsa dan negara Indonesia. Selama seabad, NU telah melewati zaman pergerakan, revolusi, hingga Indonesia modern dengan kepemimpinan dunia yang tak hanta mengakar pada tradisi, tapi juga berkiprah di skala global.
Menuju abad kedua (2026-2126), NU akan menghadapi benturan peradaban global yang semakin terpolarisasi, karena teknologi yang semakin digital justru mengalami kemajuan dalam teknologinya, tapi bukan kemajuan manusianya.
Peneliti dan pendiri "Alvara Research Center" Hasanuddin Ali dalam survei tahun 2025 mencatat era digital menjadikan internet sebagai rujukan utama dalam hampir semua aspek kehidupan, termasuk urusan agama.
Data menunjukkan bahwa cara masyarakat Indonesia mencari rujukan keagamaan juga sangat dipengaruhi oleh usia dan kelas sosial, sehingga otoritas keagamaan tidak semata berpindah dari mimbar ke layar, tetapi juga berlapis.
Survei Alvara Research Center tahun 2025 menunjukkan bahwa rujukan masyarakat terkait informasi keagamaan terbagi pada enam sumber utama, ustaz atau kiai di lingkungan rumah, internet, orang tua, guru atau dosen agama, teman, dan buku agama.
Baca juga: Sekjen Liga Muslim puji PBNU atas peran kemanusiaan internasional
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































