Bandung (ANTARA) - Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai kehadiran Museum ITB yang terletak di Lantai 4 Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Bandung, membawa standar baru bagi permuseuman nasional karena sukses mengadopsi teknologi digital canggih layaknya museum-museum kelas dunia.
Museum yang resmi dibuka oleh Fadli Zon pada hari Jumat ini, bertujuan menghadirkan ruang edukasi modern berbasis sains, teknologi, seni, dan inovasi interaktif yang dapat diakses oleh masyarakat umum.
"Intervensi digitalnya sudah sangat banyak, immersive, dan lain-lain. Mudah-mudahan ini bisa dijadikan contoh untuk sebuah museum yang lain, baik perguruan tinggi maupun museum-museum pada umumnya," ujar Fadli Zon usai peresmian yang jadi bagian dari perayaan 106 Tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia (PTTI) ini.
Fadli Zon menambahkan bahwa konsep yang diusung oleh ITB, sejalan dengan fokus presiden dalam memperkuat sektor STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
Baca juga: Indonesia-Belarus memperkuat kemitraan pada bidang kebudayaan
Ia berharap museum ini dapat memicu inspirasi, refleksi, dan edukasi yang mendalam bagi para pelajar mulai dari tingkat SD hingga SMA berkat tata pameran dan narasi yang sangat kuat.
Dari keterangan ITB, museum ini dirancang melalui kerja keras Dewan Penggagas dari lintas disiplin ilmu sejak tahun 2018. Berawal dari proyek digitalisasi arsip untuk menyelamatkan dokumen bersejarah, inisiatif ini kini bertransformasi menjadi ruang fisik canggih yang terbagi ke dalam empat zona utama.
Keempat zona tersebut meliputi Zona Akar Sejarah ITB, Zona Jejak Pencerahan Riset dan Pendidikan, Zona Kehidupan Kampus dari Masa ke Masa, serta Zona Inspirasi Masa Depan yang dilengkapi ruang pameran temporer untuk kolaborasi lintas disiplin.
Daya tarik utama yang paling membedakan museum ini dengan fasilitas serupa di tanah air adalah hadirnya fasilitas 360° Teater Dome. Teknologi ini menawarkan pengalaman imersif sinematik lewat perpaduan visual dan audio mutakhir, sehingga pengunjung dapat merasakan langsung perjalanan sejarah kampus serta simulasi riset para ilmuwan dunia.
Baca juga: Pemerintah kembangkan ekosistem sastra melalui program MTN
Di lokasi peresmian, Rektor ITB Tatacipta Dirgantara menegaskan bahwa kekuatan utama dari museum yang dibuka untuk umum ini, tidak terletak pada kemegahan fisiknya, melainkan pada transfer pengetahuan antargenerasi yang dihadirkannya.
"Kita mendesain museum ini untuk semua kalangan. Anak-anak bisa berinteraksi, orang tua juga bisa belajar, mungkin ada senior-senior yang ingin bernostalgia. Jadi, ini sebetulnya adalah ruang pertemuan lintas generasi yang juga merupakan ruang belajar," ujar Tatacipta.
Prosesi pembukaan museum ini ditandai dengan seremoni pengguntingan pita oleh Rektor ITB bersama sejumlah tokoh nasional dan mitra strategis, di antaranya Sinta Wahid, Dato' Low Tuck Kwong, Purnomo Yusgiantoro, Yani Panigoro, Subakat Hadi, dan maestro seni Nyoman Nuarta.
Baca juga: Kemenbud dorong kolaborasi dalam penguatan budaya Islam
Pewarta: Ricky Prayoga
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































