Menag tekankan peran penting imam masjid sebagai penguat persatuan

2 hours ago 4

Bandung (ANTARA) - Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menekankan bahwa peran imam masjid tidak hanya terbatas pada fungsi ibadah, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang lebih luas sebagai perekat persatuan umat di tengah masyarakat yang majemuk.

Nasaruddin Umar dalam kunjungan kerjanya di Bandung, Jabar, Selasa, menjelaskan bahwa konsep imam dalam Islam perlu dipahami sebagai bentuk kepemimpinan yang hidup, dekat dengan realitas sosial, dan tidak sekadar jabatan formal dalam pelaksanaan ibadah.

“Menjadi imam itu tidak sama. Imam itu dari bahasa hidup, bukan bacaan asing. Tapi imam tidak hanya di masjid, tapi juga mungkin di dalam rumah tangga atau di mana saja,” ujarnya saat melantik Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) Jawa Barat.

Ia menjelaskan bahwa hubungan antara imam dan makmum mencerminkan pola kepemimpinan yang tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga dibangun atas dasar kepercayaan, keteladanan, serta hubungan nilai antara pemimpin dan yang dipimpin.

“Makmum itu mengikuti imam. Jadi ini bukan sekadar struktur, tapi ada relasi yang hidup, ada kepercayaan dan ada rasa saling menguatkan antara yang memimpin dan yang dipimpin,” katanya.

Lebih lanjut, Nasaruddin Ummar menekankan bahwa konsep ummah menggambarkan komunitas yang tidak hanya diikat oleh aspek administratif atau sosial, tetapi juga oleh nilai, visi bersama, dan rasa kebersamaan yang kuat.

“Ummah itu tidak bisa disebut ummah kalau tidak ada ikatan yang menyatukan. Antara pemimpin dan umat harus ada keterhubungan nilai dan tujuan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga mencontohkan program pengiriman imam ke luar negeri, termasuk ke Amerika Serikat, sebagai upaya memperluas wawasan keagamaan dalam konteks masyarakat yang berbeda.

Menurutnya, pengalaman berada di negara minoritas Muslim memberikan perspektif baru, termasuk dalam melihat praktik keberagamaan di tengah kehidupan sosial yang berbeda, seperti keteraturan lingkungan, kebersihan, hingga dinamika ibadah umat beragama.

"Bagaimana rasanya menjadi minoritas di sini (Amerika). Kalau di Jawa Barat, di tengah suasana yang setiap waktu terdengar azan, itu menjadi pengalaman yang sangat berbeda ketika kita membandingkan dengan kehidupan di negara lain,” ujarnya.

Ia menyebut pengalaman tersebut membuat para imam dapat memahami keberagamaan secara lebih luas dan kontekstual, tidak hanya terbatas pada satu lingkungan sosial.

“Dari situ kita mendapatkan wawasan yang lebih luas, karena kita melihat langsung berbagai konteks kehidupan beragama di tempat yang berbeda,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Nasaruddin juga menegaskan pentingnya penguatan etika dan kapasitas imam sebagai bagian dari upaya membangun kepemimpinan umat yang berkualitas.

Ia menjelaskan bahwa penguatan peran imam menjadi penting agar tidak hanya berfungsi dalam aspek ibadah, tetapi juga dalam menjaga harmoni sosial serta memperkuat persatuan umat di tengah keberagaman Indonesia.

Baca juga: Menag tekankan kurikulum berbasis ekoteologi di pendidikan keagamaan

Baca juga: Menag ajak pesantren terus berbenah respons tantangan zaman

Baca juga: Menag ingatkan pejabat waspadai gratifikasi berkedok hadiah

Pewarta: Ilham Nugraha
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |