Jakarta (ANTARA) - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengukuhkan Rumah Moderasi Beragama di Wisma Sangha Theravada Indonesia, Jakarta, Senin, sebagai langkah bersama dalam memperkuat praktik moderasi beragama di Indonesia.
Menag mengatakan kehadiran Rumah Moderasi Beragama di Sangha Theravada diharapkan menjadi pusat praktik spiritual yang mengajak umat untuk berkontemplasi dan mengendalikan kemelekatan terhadap hal-hal duniawi.
“Dunia tanpa kontemplasi itu akan berbahaya. Dunia harus dibimbing oleh dua kekuatan, yakni kekuatan konsentrasi dan kekuatan kontemplasi,” ujar Menag Nasaruddin Umar.
Rumah moderasi beragama ke depan, kata dia, diharapkan melahirkan ajakan kepada umat untuk mengembangkan kemampuan mencegah kemelekatan pada satu objek tertentu.
Baca juga: Berada di Manado, Menag pesan perkuat moderasi beragama di Sulut
“Kemelekatan itu adalah awal dari sebuah kegagalan. Kalau kita melekat pada uang, materi, dan jabatan,” katanya.
Menurut Menag, Rumah Moderasi Beragama merupakan rumah besar bagi kemanusiaan ini diharapkan berfungsi menumbuhkan nilai-nilai spiritual, kasih sayang, dan kepedulian terhadap sesama serta alam.
Di samping itu Menag juga berharap Rumah Moderasi Beragama dapat melahirkan aksi nyata dalam mencintai dan merawat alam, bukan sekadar ruang perdebatan.
“Rumah moderasi ini harus melahirkan tangan-tangan yang menanam pohon, bukan hanya yang pintar berdebat. Jika Penciptanya sakral, maka alam ciptaan-Nya juga harus disakralkan,” kata Menag Nasaruddin Umar.
Ketua Wisma Sangha Theravada Indonesia Bhante Dhammasubho Mahathera mengatakan kehadiran Rumah Moderasi diharapkan dapat menjadi sarana komunikasi dan sambung rasa antar-umat beragama di tengah tantangan zaman yang terus berkembang.
Baca juga: Menag: Bhinneka Tunggal Ika harus jadi kerangka berpikir
Bhante Dhammasubho menilai perkembangan teknologi komunikasi yang pesat saat ini membawa dua sisi yang berlawanan. Di satu sisi jarak antar-manusia terasa semakin dekat, namun di sisi lain hubungan batin antar-jiwa justru semakin menjauh.
“Belakangan ini kita merasakan bahwa teknologi membuat jarak antar-jagat semakin dekat, tetapi hubungan antar-jiwa semakin jauh,” ujar Bhante Dhammasubho.
Melalui Rumah Moderasi, kata dia, diharapkan masyarakat dapat kembali mendekatkan hubungan antar-jiwa dengan membangun perjumpaan yang nyata antar-umat beragama. Menurutnya, sikap saling mengenal menjadi fondasi penting dalam membangun kehidupan yang rukun dan harmonis.
Ia juga berharap Rumah Moderasi dapat menjadi ruang pertemuan yang hidup, tidak hanya sebagai tempat bertemu secara fisik, tetapi juga sebagai wadah dialog dan kerja bersama.
“Agama-agama harus saling mengenal satu dengan yang lain. Kalau kita tidak pernah bertemu, kita tidak bisa mengenal satu dengan yang lain,” katanya.
Baca juga: Pemkab Bekasi bangun enam rumah ibadah berdampingan
Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































