Membuka mata tentang bahaya IBD

5 days ago 8
IBD bukan sekadar gangguan pencernaan biasa

Jakarta (ANTARA) - Inflammatory Bowel Disease atau IBD menjadi contoh nyata bagaimana penyakit kronis dapat berkembang secara progresif di balik rendahnya kesadaran masyarakat dan keterbatasan pemahaman klinis di layanan kesehatan sehari-hari.

Padahal, tren global dan regional menunjukkan peningkatan kasus yang tidak bisa lagi dipandang sebagai fenomena langka, termasuk di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.

IBD bukan sekadar gangguan pencernaan biasa. Ini merupakan penyakit multifaktorial yang melibatkan interaksi rumit antara faktor genetik, sistem imun, lingkungan, dan mikrobiota usus.

Dua bentuk utamanya, Crohn’s disease dan ulcerative colitis, kerap menampilkan gejala yang tumpang tindih dengan infeksi saluran cerna atau bahkan tuberkulosis usus.

Di negara dengan prevalensi penyakit infeksi yang masih relatif tinggi, kemiripan gejala ini menjadi tantangan tersendiri.

Banyak pasien datang terlambat ke fasilitas kesehatan, atau mendapatkan diagnosis yang keliru, sehingga penanganan yang seharusnya bisa dimulai lebih dini justru tertunda.

Spesialis penyakit dalam bidang gastroenterologi-hepatologi di RS Abdi Waluyo Prof dr Marcellus Simadibrata PhD menegaskan bahwa IBD perlu dipahami sebagai penyakit kronis yang tidak bisa ditangani dengan pendekatan seragam.

Menurut dia, setelah diagnosis ditegakkan, tantangan terbesar adalah menentukan strategi terapi sejak awal agar risiko perburukan, rawat inap berulang, dan komplikasi serius seperti perdarahan, obstruksi usus, fistula, hingga peningkatan risiko kanker kolorektal, dapat ditekan.

Di sinilah pentingnya penilaian aktivitas dan derajat keparahan penyakit sebelum menentukan terapi yang paling sesuai.

Pendekatan treat-to-target yang ia dorong menjadi cerminan perubahan paradigma dalam dunia medis.

Tujuan terapi tidak lagi berhenti pada meredakan keluhan, tetapi meluas hingga mencapai penyembuhan mukosa dan mencegah kerusakan jaringan jangka panjang.

Pendekatan ini menuntut evaluasi komprehensif, mulai dari pemeriksaan klinis, endoskopi, histopatologi, hingga skrining infeksi tersembunyi seperti tuberkulosis dan hepatitis B.


Risiko terapi

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |