Korsel dorong penguatan kerja sama seiring penurunan volume dagang

2 hours ago 3

Seoul (ANTARA) - Parlemen Korea Selatan (Korsel) mendorong penguatan kerja sama antara Seoul dengan Indonesia seiring adanya tren penurunan nilai volume perdagangan.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua Asosiasi Persahabatan Anggota Parlemen Korea Selatan-Indonesia, Kim Gi-Hyeon pada acara ‘Indonesian Next-Generation Journalist Network’ yang diselenggarakan oleh Korea Foundation dan Foreign Policy Community of Indonesia di Seoul, Korea Selatan, Selasa.

“Saya akan berharap akan ada lebih banyak peluang untuk investasi ekonomi, transfer teknologi, serta pengembangan talenta antara Indonesia dan Korea,” kata Kim.

Kim menuturkan bahwa volume perdagangan kedua negara saat ini mengalami tren penurunan yang berkelanjutan jika dibandingkan dengan 2020, di mana nilai volume perdagangan mencapai sekitar 25,5 miliar dolar AS.

Anggota parlemen tersebut menyoroti ketentuan sertifikasi melalui Standar Nasional Indonesia (SNI) dengan jumlah yang semakin bertambah, yang menurutnya berperan dalam meningkatkan hambatan non-tarif antara kedua negara, serta membuat perusahaan-perusahaan Korea lebih sulit memasuki pasar Indonesia.

“Hal ini pada dasarnya meningkatkan hambatan non-tarif antara kedua negara dan membuat perusahaan-perusahaan Korea lebih sulit memasuki pasar Indonesia. Standar SNI tersebut direvisi sekitar satu tahun yang lalu sehingga lebih banyak produk diwajibkan memperoleh sertifikasi, sementara masa transisi atau masa tenggangnya semakin pendek,” jelasnya.

Kim juga menyoroti dampak dari penghapusan insentif kendaraan listrik (electric vehicle/EV) terhadap industri otomotif.

Menurutnya, penghapusan insentif dan kebijakan yang dinilainya lebih banyak dinikmati oleh China, membuat Hyundai sebagai produsen EV terbesar Korea Selatan mempertimbangkan kembali terkait perluasan investasi.

“Hyundai Motor Company telah memproduksi kendaraan listrik di Indonesia, seperti Kona EV dan IONIQ 5. Kendaraan-kendaraan tersebut merupakan mobil listrik pertama yang diproduksi di Indonesia," ujar Kim.

Namun, setelah sistem insentif dihapuskan, manfaat yang tersedia cenderung lebih banyak dinikmati oleh perusahaan-perusahaan China,” katanya menambahkan.

Dia menilai bahwa Indonesia dapat bekerja sama dengan Korea Selatan di bidang robotika dan kecerdasan buatan (AI), serta pemanfaatannya untuk sektor kesehatan.

Selain itu, dirinya juga mengemukakan harapannya agar kedua negara dapat lebih meningkatkan pengembangan talenta dan transfer teknologi, seiring banyaknya mahasiswa asal Indonesia yang menerima beasiswa dari Korea Selatan.

Saat ini, sebanyak 1.126 orang mahasiswa Indonesia menerima beasiswa dari Korea Selatan dan menjadi negara dengan penerima beasiswa terbanyak.

Atas permintaan pemerintah Indonesia, Korea Selatan juga sedang mendorong kebijakan untuk meningkatkan jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika).

Adapun volume perdagangan Indonesia dan Korea Selatan pada 2025 mencapai 18 miliar dolar AS dengan Indonesia surplus sebanyak 25 persen. Sedangkan pada 2024 mencapai 20,09 miliar dolar AS.

Baca juga: Korsel berlakukan bebas visa sementara bagi turis Indonesia

Baca juga: KTO dorong minat wisatawan Indonesia ke Korea Selatan

Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |