Kemenko PMK: Gelar tak berarti tanpa karya

1 day ago 6

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) mengingatkan seluruh lulusan baru (fresh graduate) perguruan tinggi bahwa kecerdasan intelektual dan gelar akademik akan sia-sia jika tidak diimbangi dengan kesehatan fisik, mental, dan kontribusi nyata.

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan, Kemenko PMK, Ojat Darojat saat memberikan pembekalan dalam acara Seminar Wisuda Universitas Terbuka (UT) di Tangerang Selatan, Senin, menekankan pentingnya konsep kelengkapan kompetensi sebagai bekal menghadapi dunia kerja, dimana seorang profesional muda harus menguasai keahlian yang sangat mendalam pada profesinya (deep expertise), namun juga wajib memiliki wawasan yang luas terhadap isu di luar bidangnya (wide of knowledge).

Baca juga: Kursi roda tak halangi Eprisa raih gelar sarjana

Ia mencontohkan seorang lulusan yang nantinya berprofesi sebagai pendidik atau guru, tetap dituntut untuk melek terhadap bidang-bidang lintas sektoral, seperti ilmu manajemen, strategi komunikasi, hingga dasar-dasar hukum dan regulasi.

"Jangan sampai juga para guru yang profesional dan mengajar mereka tersandung kasus hukum. Nah, anda harus punya pemahaman tentang hukum. Jadilah wide of knowledge dan deep expertise," katanya.

Ojat menegaskan kepada seluruh lulusan baru bahwa ijazah perguruan tinggi yang diraih barulah sebatas pengakuan kompetensi di atas kertas. Sementara itu, ukuran kesuksesan yang sesungguhnya adalah bagaimana kompetensi tersebut dikontribusikan langsung dalam memecahkan masalah di tengah masyarakat.

Guna merealisasikan kontribusi sosial yang panjang tersebut, ia mengingatkan secara tegas bahwa kesehatan fisik dan mental merupakan aset terbesar yang sering kali dilupakan oleh para pekerja keras di awal meniti karier.

"Pintar saja tidak cukup, cerdas saja tidak cukup. Kalaupun anda cerdas, anda pintar, tetapi anda sakit, maka nol nilainya. Jadi tinggal kerja, kerja, kerja tidak cukup. Kita juga harus menyayangi badan kita sendiri," ujarnya.

Baca juga: Macam-macam tingkatan gelar akademik serta perbedaan dan penjelasannya

Baca juga: Ragam gelar sarjana S1 di Indonesia

Eks-Rektor UT itu juga mendorong generasi muda yang akan memasuki kerasnya dunia kerja untuk selalu menerapkan keseimbangan hidup, yakni dengan mengatur porsi waktu yang proporsional antara bekerja, mengurus keluarga, belajar, bersosialisasi, dan berolahraga secara teratur.

Selain kebugaran fisik, Ojat berpesan agar para lulusan memiliki mentalitas yang tangguh dan berani mencoba dalam menghadapi kegagalan. Layaknya kisah tokoh-tokoh besar dunia yang pernah mengalami jatuh bangun, kegagalan merupakan bagian wajar dari proses menuju kesuksesan.

Menutup pembekalannya, Deputi Kemenko PMK ini menyoroti pentingnya nilai integritas, kejujuran, dan disiplin, dimana pada era modern ini harus diwujudkan dalam bentuk etika digital yang bijak, khususnya saat memanfaatkan lompatan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) di dunia profesional.

Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |