Kemenag beri dukungan psikososial bagi penyintas bencana di Aceh

4 weeks ago 12

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Agama melalui Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah memberi dukungan psikososial bagi penyintas banjir dan longsor di Provinsi Aceh yang difokuskan pada pemulihan kesehatan mental keluarga dan komunitas terdampak bencana.

“Bencana tidak hanya merusak rumah, sekolah, fasilitas kesehatan, dan infrastruktur, tetapi juga sangat mempengaruhi kesehatan mental dan psikososial penyintas, terutama anak-anak, remaja, orang tua, dan keluarga,” ujar Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah Kemenag Ahmad Zayadi dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Ia menjelaskan trauma pascabencana berpotensi memicu gangguan stres pascatrauma (PTSD), kecemasan, depresi, gangguan tidur, hingga konflik dalam keluarga apabila tidak ditangani secara sistematis.

“Intervensi psikososial berbasis komunitas terbukti efektif untuk menekan dampak psikologis, memperkuat ikatan sosial, serta meningkatkan ketahanan keluarga. Metode seperti terapi bermain, storytelling, pelatihan coping, dan konseling keluarga menjadi pendekatan utama dalam program ini,” kata dia.

Dalam pelaksanaannya, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag bekerja sama dengan Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKK NU). Program ini melibatkan relawan penyuluh agama, penghulu, relawan organisasi kemasyarakatan NU, serta guru PAUD, TK, dan RA.

Kepala Subdirektorat Bina Keluarga Sakinah Kemenag Zudi Rahmanto menyampaikan bahwa hasil asesmen Kanwil Kemenag Aceh menunjukkan bahwa sejumlah daerah mengalami dampak bencana berat dan berpotensi menimbulkan kerentanan sosial psikologis.

Baca juga: Kemensos berikan trauma healing kepada anak-anak di Pidie Jaya Aceh

“Hasil asesmen menunjukkan wilayah terdampak cukup berat meliputi Kabupaten Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Tengah khususnya Kecamatan Takengon, Bener Meriah, Gayo Lues, Kota Langsa, Aceh Singkil, dan Aceh Tamiang,” ujar Zudi.

Namun, pada tahap awal, program dukungan psikososial difokuskan di tiga kabupaten, yaitu Pidie Jaya, Bireuen, dan Aceh Utara. Penetapan lokasi tersebut mempertimbangkan tingkat kerusakan, jumlah penyintas dan pengungsi, tingginya kelompok rentan, serta akses ke wilayah terdampak yang telah terbuka.

Berbagai aktivitas trauma healing digelar. Anak-anak diajak bermain, bernyanyi, dan menggambar. Permainan sederhana itu menjadi jalan untuk memulihkan kepercayaan diri dan menenangkan batin penyintas. Sementara itu, para ibu duduk berkelompok, berbagi cerita, menumpahkan kegelisahan yang selama ini terpendam.

Salah satu Penyuluh Agama Islam Kabupaten Bireuen Mulyadi mengatakan pendampingan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan mendesak penyintas, terutama dari sisi kesehatan mental.

“Kami memberikan Psychological First Aid, dukungan psikologis awal agar penyintas merasa tenang, aman, dan tidak sendirian menghadapi situasi ini,” ujarnya.

Selain PFA, tim juga memberikan Respons Awal Kesehatan Mental dan Psikososial. Para relawan dibekali kemampuan melakukan penilaian cepat terhadap kondisi mental penyintas, sehingga bantuan yang diberikan dapat tepat sasaran.

Baca juga: BNPB gelar "trauma healing" bagi anak korban bencana di Agam

“Kami juga mengedukasi tentang kesehatan mental, mulai dari mengenali gejala hingga pertolongan pertama pada gangguan mental,” kata Mulyadi.

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |