Jakarta (ANTARA) – Peningkatan kasus suspek campak di Indonesia pada awal 2026 menjadi peringatan serius bagi masyarakat dan pemerintah. Dalam periode tersebut, tercatat lebih dari 8.000 kasus suspek campak, disertai 21 kejadian luar biasa (KLB) di 17 kabupaten/kota yang tersebar di 11 provinsi.
Sejumlah KLB tersebut bahkan telah terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium, menandakan bahwa penularan campak masih terjadi secara aktif di berbagai wilayah.
Dokter Relly Reagen, Ketua Umum Brigade Rakyat Nusantara (BRN), yang juga berprofesi sebagai dokter menegaskan bahwa campak bukan penyakit ringan yang bisa dianggap sepele. Ia menjelaskan, campak merupakan infeksi virus yang sangat mudah menular dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius.
“Campak sering diawali gejala mirip flu seperti demam, pilek, batuk, nyeri otot, dan tubuh lemas. Namun yang membedakan adalah munculnya ruam kemerahan yang menyebar di tubuh,” ujarnya.
Menurutnya, virus campak menyebar melalui percikan ludah saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Penularan juga bisa terjadi melalui benda yang terkontaminasi virus.
“Karena tingkat penularannya sangat tinggi, campak bisa menyebar dengan cepat, terutama pada anak-anak dan kelompok dengan daya tahan tubuh lemah,” kata dr. Relly.
Ia juga mengingatkan bahwa campak dapat menyebabkan komplikasi berat, seperti infeksi paru-paru dan radang otak, bahkan berujung pada kematian, khususnya pada anak kecil dan individu dengan status gizi kurang.
Untuk itu, imunisasi menjadi langkah pencegahan paling efektif. Selain itu, masyarakat juga diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga asupan gizi seimbang, serta memastikan istirahat yang cukup.
Bagi anak yang telah terinfeksi, orang tua diminta memberikan perawatan suportif, seperti memastikan anak cukup minum dan istirahat, serta memberikan obat penurun demam sesuai anjuran tenaga medis.
“Jika kondisi anak memburuk atau muncul tanda komplikasi, segera bawa ke fasilitas kesehatan,” tegasnya.
Dalam upaya pengendalian campak, dr. Relly menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pihak. Puskesmas dan fasilitas kesehatan primer berperan dalam imunisasi dan deteksi dini, sementara rumah sakit menangani kasus dengan komplikasi berat.
Di sisi lain, pemerintah didorong untuk memperkuat imunisasi rutin dan kejar, meningkatkan surveilans, serta memperkuat komunikasi publik guna melawan hoaks terkait vaksinasi.
Di tengah menurunnya cakupan imunisasi pascapandemi dan tingginya mobilitas masyarakat, partisipasi aktif masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam mencegah penyebaran campak.
“Memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap bukan hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga melindungi lingkungan sekitar,” pungkasnya.
Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































