Kamis pagi, kualitas udara Jakarta 10 besar terburuk di dunia

3 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Kualitas udara di Jakarta pada Kamis pagi menduduki posisi 10 besar sebagai kota dengan udara terburuk di dunia dan masuk ke dalam kategori udara tak sehat.

Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 05.30 WIB, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta berada di posisi ketujuh terburuk di dunia, dengan angka 169 atau masuk dalam kategori tidak sehat.

Polusi udara Jakarta, yakni PM2.5 dan nilai konsentrasi 68 mikrogram per meter kubik. Angka ini menunjukkan tingkat kualitas udara tidak sehat bagi kelompok sensitif karena dapat merugikan manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif, atau dapat menimbulkan kerusakan pada tumbuhan maupun nilai estetika.

Sedangkan kategori tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 51-100.

Lalu, kategori baik, yakni tingkat kualitas udara yang tidak memberikan efek bagi kesehatan manusia atau hewan dan tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan ataupun nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 0-50.

Kemudian, kategori sangat tidak sehat dengan rentang PM2,5 sebesar 200-299 atau kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar. Terakhir, berbahaya (300-500) atau secara umum kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan yang serius bagi populasi.

Baca juga: Masyarakat sipil dorong Pramono perkuat strategi atasi polusi udara

Kota dengan kualitas udara terburuk urutan pertama, yaitu Dhaka, Bangladesh yang berada pada angka 221. Urutan kedua, yaitu Lahore, Pakistan, dengan angka 192. Urutan ketiga ditempati Wuhan, China, dengan angka 185, dan urutan keempat adalah Delhi, India, pada angka 170.

Pada urutan kelima, terdapat Shanghai, China, dengan angka 169, urutan keenam Karachi, Pakistan, dengan angka 167, urutan kesembilan Mumbai, India, pada angka 158, dan urutan kesepuluh Seoul, Korea Selatan, dengan angka 157.

Dalam kondisi tersebut, masyarakat direkomendasikan untuk selalu mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, menutup jendela untuk menghindari udara luar yang kotor dan mengaktifkan penyaring udara.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjalankan sejumlah strategi utama untuk memperbaiki kualitas udara.

Pertama, yakni perluasan jangkauan layanan bus Transjabodetabek untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, seperti Blok M-Alam Sutera, Blok M-PIK 2, serta rencana pembukaan rute baru Blok M-Bandara Soekarno Hatta.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pun mengajak masyarakat untuk memanfaatkan layanan transportasi publik yang telah disediakan. Bahkan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah menerbitkan aturan terkait pemberlakuan layanan transportasi umum gratis bagi 15 golongan masyarakat.

Selain transportasi, sektor pengelolaan sampah juga menjadi perhatian Pemprov DKI dengan mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah Intermediate Treatment Facility (ITF) di Sunter, Rorotan, Bantargebang dan Jakarta Barat. Proyek ini ditargetkan mulai berjalan pada pertengahan 2026.

Baca juga: Jakpro dorong LRT Manggarai tekan emisi karbon dan polusi udara

Baca juga: Hampir 2000 kendaraan ikuti uji emisi di Jaksel pada 2025

Pewarta: Siti Nurhaliza
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |