Inklusi digital 2026, dari sinyal ke pemberdayaan

5 days ago 1

Jakarta (ANTARA) - Oleh banyak pihak, tahun 2026 ini dipersepsikan sebagai masa “kematangan digital”. Jaringan internet semakin luas, teknologi 5G berkembang, dan ponsel pintar menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari‑hari.

Hanya saja, di balik optimisme tersebut, muncul persoalan mendasar yang belum tuntas: apakah kemajuan teknologi benar‑benar menghadirkan kesempatan yang setara bagi seluruh warga?

Pertanyaan ini penting karena inklusi digital, hari ini bukan lagi soal siapa yang memiliki akses internet, melainkan siapa yang mampu memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

Di sinilah peran telekomunikasi menjadi sangat strategis, bukan semata sebagai infrastruktur teknis, tetapi sebagai fondasi keadilan sosial di era digital.

Wajah baru ketimpangan

Dalam masyarakat modern, konektivitas menentukan peluang. Sosiolog Manuel Castells menyebut kita hidup dalam network society, masyarakat yang bergerak dan berfungsi melalui jaringan komunikasi.

Dalam tatanan ini, individu dan kelompok yang terkoneksi memiliki keunggulan dalam ekonomi, pendidikan, hingga partisipasi sosial. Sebaliknya, mereka yang tertinggal konektivitasnya akan semakin jauh dari pusat aktivitas sosial dan ekonomi.

Data global menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet terus meningkat, namun jutaan orang masih berada di pinggiran digital. Hal ini terjadi, bukan karena ketiadaan jaringan semata, melainkan karena keterbatasan kualitas layanan, biaya, dan kemampuan menggunakan teknologi secara efektif.

Ketimpangan digital pun berubah bentuk: dari masalah akses menjadi masalah pemanfaatan. Di tengah percepatan transformasi digital, tantangan ini semakin kompleks. Kesenjangan muncul, bukan hanya antara mereka yang daring dan luring, tetapi antara pengguna yang mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan taraf hidup dan mereka yang hanya menjadi konsumen pasif. Tanpa intervensi strategis, ketimpangan ini berpotensi semakin melebar.

Tidak berhenti pada sinyal

Pemahaman inilah yang ditekankan oleh Profesor Jan van Dijk, salah satu pemikir utama tentang kesenjangan digital. Menurutnya, kesenjangan digital berlangsung dalam beberapa lapisan: mulai dari akses fisik, keterampilan, cara penggunaan, hingga dampak yang dihasilkan. Dua orang dengan koneksi internet yang sama dapat memperoleh manfaat yang sangat berbeda, tergantung pada pengetahuan, literasi, dan tujuan penggunaannya.

Fenomena ini akan semakin terasa di tahun 2026. Internet hadir hampir di setiap ruang kehidupan, tetapi tidak semua orang mampu menggunakannya untuk belajar, berusaha, atau meningkatkan kesejahteraan. Banyak yang masih terjebak sebagai konsumen pasif, rentan terhadap disinformasi, atau bahkan menjadi korban kejahatan digital. Tanpa literasi dan ekosistem pendukung, konektivitas justru berisiko memperlebar jurang ketimpangan sosial.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |