Hari Gizi Nasional momen evaluasi dampak MBG bagi keluarga

1 week ago 7

Jakarta (ANTARA) - Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC) menyatakan peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) yang jatuh tiap 25 Januari menjadi momen untuk mengevaluasi dampak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi keluarga di Indonesia.

Ketua IYCTC, Manik Marganamahendra dalam keterangannya di Jakarta, Senin, mengemukakan selama dua tahun berjalan, Program MBG telah hadir sebagai intervensi baru pemenuhan gizi anak yang telah menjangkau berbagai wilayah di Indonesia.

Baca juga: Pakar Unsoed: Hari Gizi Nasional momentum evaluasi cegah stunting

Namun, dinamika pelaksanaan sepanjang 2025, termasuk isu kualitas menu, keamanan pangan, dan respons masyarakat menunjukkan bahwa pemenuhan gizi anak merupakan persoalan yang jauh lebih kompleks daripada penyediaan makanan semata.

"MBG menghadirkan intervensi penting dalam pemenuhan gizi anak. Namun, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa kualitas dan konsistensi gizi yang diterima anak sangat dipengaruhi oleh kondisi di luar sekolah, terutama lingkungan keluarga tempat mereka tumbuh," ujar Manik.

Ia mengutarakan perhatian publik kini tidak lagi hanya tertuju pada perluasan jangkauan program, tetapi juga pada kualitas serta dampaknya terhadap perbaikan status gizi anak dan remaja. Oleh karena itu, MBG perlu dilihat sebagai bagian dari ekosistem gizi yang lebih luas.

"Tahun kedua MBG merupakan fase penting untuk memahami bagaimana program ini berinteraksi dengan realitas sosial di tingkat keluarga," katanya.

Manik menambahkan di sejumlah wilayah, keluarga dengan penghasilan menengah ke bawah masih menghadapi tantangan dalam menjaga pemenuhan gizi anak secara berkelanjutan di rumah.

Baca juga: Hari Gizi Nasional, Kepala BGN: Makanan nikmat belum tentu bergizi

Baca juga: Di DPR, BGN ungkap 3,9 juta orang telah menerima MBG per hari ini

Menurutnya, fase satu tahun program MBG perlu diukur hasil dan dampaknya pada gizi anak dan keluarga.

Dalam keseharian, rumah tangga dihadapkan pada berbagai pilihan pengeluaran. Sebagian di antaranya dialokasikan untuk kebutuhan yang bersifat konsumtif dan tidak selalu mendukung pemenuhan gizi anak.

"Ini bukan soal menyalahkan pilihan individunya, melainkan menggambarkan betapa kompleksnya faktor yang memengaruhi tercapainya status gizi yang optimal," tuturnya.

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |