Jakarta (ANTARA) - Pada peringatan Hari Gizi Nasional Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC) menyoroti pola konsumsi rokok di Indonesia yang masih tinggi sehingga dapat meningkatkan risiko stunting.
Tim Ahli Kesehatan Masyarakat IYCTC Adhiyatma Nizar Fuaddy menegaskan pentingnya melihat pemenuhan gizi anak melalui pendekatan berbasis bukti dan kesehatan masyarakat. Konsumsi rokok baik secara aktif maupun paparan asapnya di rumah, kata dia, memiliki kaitan yang kuat dengan risiko stunting pada anak.
"Berbagai kajian menunjukkan anak yang tumbuh di rumah dengan paparan asap rokok memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan pertumbuhan. Paparan ini tidak hanya datang dari perokok aktif atau pasif, tetapi juga dari residu zat berbahaya yang menempel di pakaian, perabot, dan ruang tertutup atau yang dikenal sebagai third-hand smoke. Pengendalian tembakau perlu dilaksanakan selaras dengan intervensi gizi," kata Adhiyatma dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Baca juga: Pakar Unsoed: Hari Gizi Nasional momentum evaluasi cegah stunting
Ia merujuk pada ringkasan kajian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebutkan bahwa paparan asap rokok meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan, gangguan penyerapan nutrisi, serta inflamasi kronis, faktor-faktor yang berkontribusi langsung terhadap stunting pada anak.
Temuan ini juga sejalan dengan penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, yang menunjukkan hubungan signifikan antara perilaku merokok orang tua dan kejadian stunting pada balita.
Selain dampak kesehatan langsung, Adhiyatma juga mengemukakan konsumsi rokok dapat memengaruhi kemampuan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak.
Analisis dari Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS UI) menunjukkan bahwa pengeluaran rumah tangga untuk rokok berkorelasi dengan penurunan konsumsi protein dan energi, terutama pada kelompok rumah tangga dengan pengeluaran rendah.
Baca juga: Menkes: Revisi UU nasional penting untuk kendalikan rokok-tembakau
"Rata-rata pengeluaran rokok sekitar Rp12.956 per rumah tangga per hari sebenarnya memiliki potensi besar jika dialihkan untuk pangan bergizi. Pada anak usia 4-6 tahun, pengalihan ini berpotensi meningkatkan pemenuhan energi hingga 27-85 persen dan protein hingga lebih dari dua kali kebutuhan harian berdasarkan Recommended Dietary Allowance (RDA)," tuturnya.
Menurut Adhiyatma, temuan-temuan ini menunjukkan bahwa intervensi, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), akan bekerja lebih optimal jika diiringi upaya memperbaiki lingkungan rumah yang bebas asap rokok serta peningkatan literasi gizi keluarga.
"Tanpa lingkungan yang sehat, manfaat gizi dari makanan yang dikonsumsi anak berisiko tereduksi. Selain itu, evaluasi komprehensif terhadap Program MBG juga diperlukan untuk melihat dampak program terhadap pengeluaran rumah tangga, terutama pengeluaran untuk pemenuhan gizi dan konsumsi rokok," paparnya.
Baca juga: Hari Gizi Nasional momen evaluasi dampak MBG bagi keluarga
Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































