Jakarta (ANTARA) - Ketua Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) KH. Anang Rikza Masyhadi menyatakan GIHES yang digelar pada 5-6 September 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta bertujuan mendorong Indonesia sebagai kiblat pendidikan holistik dunia.
“Pendidikan holistik ini menjadi isu yang sangat penting di Barat, tetapi riset dari Harvard menunjukkan belum ada sekolah yang benar-benar berhasil di sana,” kata KH. Anang Rikza Masyhadi yang juga Sekretaris Jenderal Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG) di Jakarta, Jumat.
Sementara itu, pendidikan pesantren justru menjalankan pendidikan holistik setiap hari selama 24 jam dan GIHES hadir untuk meletakkan konsep ini di atas permukaan tanah agar dapat dilihat, dikaji, dan dijadikan rujukan oleh dunia luar.
Ia menjelaskan bahwa keunggulan sistem pesantren terletak pada pembentukan manusia secara seutuhnya yang mencakup kecerdasan intelektual, kepemimpinan, ketahanan diri (resiliency), hingga interaksi sosial.
Menurut dia fenomena ini terbukti dari tren pendidikan nasional yang kini mulai kembali mengadopsi konsep berasrama seperti pada Sekolah Garuda, Sekolah Rakyat, hingga MAN Insani Cendekia.
“Fakta ini mempertegas bahwa pola pendidikan 24 jam ala pesantren merupakan instrumen paling efektif untuk menjawab kebutuhan zaman,” kata dia.
Baca juga: Hidayat Nur Wahid : GIHES titik balik transformasi dunia pendidikan
Ia menambahkan gagasan ini dihadirkan guna mempromosikan model pendidikan Islam berbasis pesantren yang genuine dan teruji ke kancah akademis global.
Menurut dia riset akademis terbaru menunjukkan belum ada satu pun lembaga di sana yang berhasil menerapkan secara utuh. Sebaliknya, Indonesia telah menjalankan sistem tersebut secara konsisten selama berabad-abad melalui tradisi kepesantrenan.
Sementara itu, untuk memastikan bobot dan kedalaman gagasan yang diusung Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor bersama FPAG sebagai bagian dari puncak rangkaian peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.
“Kami merancang GIHES secara eksklusif dengan hanya melibatkan 300 peserta terundang dari dalam dan luar negeri,” kata dia.
Peraih doktor UII Yogyakarta tersebut menegaskan bahwa konferensi ini tidak sekadar mempertemukan para pimpinan pesantren dan sekolah internasional dari Amerika Serikat, Malaysia, Turki, Jepang, hingga Mesir, tetapi juga dirancang untuk menghasilkan luaran akademis berstandar global.
Ia mengatakan seluruh materi pembicara dan hasil pembahasan akan dibukukan dalam naskah akademik yang diterbitkan oleh Springer di Eropa, serta dimasukkan ke dalam jurnal internasional.
“Kami berharap ketika dunia membicarakan holistic education, referensi utamanya adalah Indonesia dan sistem kepesantrenan," kata dia
Baca juga: GIHES diharapkan mampu rumuskan masa depan pendidikan holistik
Baca juga: Jusuf Kalla dukung GIHES 2026 untuk fokus pada pendidikan berkarakter
Pewarta: Mario Sofia Nasution
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































