Ekonom sebut keanggotaan di BRICS perkuat perekonomian nasional

1 week ago 12
Keanggotaan tersebut membuka akses pasar baru yang lebih luas. Selama ini ekspor Indonesia masih bertumpu pada Amerika Serikat, Eropa, Jepang dan kawasan ASEAN

Samarinda (ANTARA) - Ekonom Universitas Mulawarman Samarinda Aji Sofyan Efendi menilai keanggotaan Indonesia dalam kelompok negara-negara BRICS dapat memperkuat perekonomian nasional, baik dari sisi perluasan pasar, sumber pembiayaan alternatif, maupun penguatan posisi tawar Indonesia di kancah dunia.

"Keanggotaan tersebut membuka akses pasar baru yang lebih luas. Selama ini ekspor Indonesia masih bertumpu pada Amerika Serikat, Eropa, Jepang dan kawasan ASEAN," ujar Aji Sofyan Efendi di Samarinda, Kalimantan Timur, Senin.

Menurut dia, dengan bergabungnya Indonesia, maka peluang perdagangan kini terbuka pula ke Brasil, Rusia, India dan Afrika Selatan (BRICS).

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan hubungan dagang mulai menguat, ekspor Indonesia ke Afrika telah mencapai 2,4 persen pada 2024, menggambarkan hubungan dengan Afrika sudah baik meski saat itu belum resmi bergabung. Sementara impor dari Brasil naik 17,95 persen dan ekspor ke Brasil meningkat 7,71 persen pada 2025.

"Produk UMKM, kelapa sawit, nikel, hingga furnitur Indonesia kini memiliki etalase pasar yang lebih beragam," ujar Aji Sofyan.

BRICS merupakan kerja sama ekonomi dan geopolitik yang kini beranggotakan 10 negara, setelah Indonesia resmi bergabung pada 6 Januari 2025. Blok ini menguasai lebih dari 40 persen populasi dunia dan hampir sepertinya perekonomian global.

Baca juga: Airlangga: Teknologi harus buka akses pembangunan masyarakat rentan

Baca juga: Prabowo ajak BRICS perkuat industrialisasi dan rantai pasok global

Selain pasar, kehadiran Bank Pembangunan Baru atau New Development Bank (NDB) menjadi sumber pembiayaan alternatif yang lebih fleksibel dan tanpa syarat ketat seperti lembaga keuangan internasional lainnya.

Pendanaan ini dapat dimanfaatkan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan energi, termasuk di Ibu Kota Nusantara, yang pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan kerja.

Agenda pengurangan ketergantungan terhadap dolar AS atau de-dolarisasi dalam perdagangan antaranggota BRICS juga dinilai bermanfaat. Transaksi menggunakan mata uang lokal diperkirakan dapat menekan laju inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Meski demikian, Aji Sofyan mengingatkan sejumlah tantangan yang harus diantisipasi. Persaingan produk dengan negara anggota lain cukup ketat, sehingga peningkatan daya saing mutlak diperlukan.

Selain itu, Indonesia juga harus menjaga keseimbangan hubungan diplomatik agar tidak kehilangan pasar lama di Amerika Serikat dan Eropa. Manfaat keanggotaan BRICS pun bersifat jangka menengah hingga panjang dan tidak dapat dirasakan secara instan.

"BRICS bukan obat ajaib, melainkan peluang yang harus dimanfaatkan dengan kesiapan dalam negeri. Keberhasilan pada akhirnya tetap ditentukan oleh seberapa kuat kemampuan bersaing dan kemandirian ekonomi bangsa sendiri," katanya.

Baca juga: Prabowo ajak BRICS ubah kerentanan jadi kekuatan ekonomi

Baca juga: Prabowo di KTT BRICS: RI siap tingkatkan dukungan pangan dunia

Pewarta: M.Ghofar
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |