China mungkin batasi ekspor model AI canggih ke pasar luar negeri

5 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - China dikabarkan mengambil pendekatan serupa AS dalam hal ekspor teknologi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dengan membatasi model AI tercanggih ke pasar luar negeri.

Mengutip Huawei Central, Rabu, laporan terbaru menunjukkan langkah ini mungkin akan menjadi tantangan bagi para pelaku industri dari China mengingat banyak perusahaan yang berhasil meraih pangsa pasar global dengan membuka akses ke model AI mereka secara gratis.

Laporan tersebut pertama kali diungkap oleh Reuters yang menyebut otoritas China tengah mengadakan pertemuan dengan para raksasa teknologi di negaranya seperti Alibaba, ByteDance, dan Z.ai untuk membahas bagaimana mereka dapat membatasi akses ke model AI di pasar luar negeri.

Baca juga: Perusahaan AI China saling berlomba rilis model terbaru

Menyusul popularitas DeepSeek di pasar global pada 2025, di panggung global cukup banyak perusahaan AI asal China yang mencetak kemajuan dari sisi pengguna karena pemanfaatan AI mereka.

Model AI dari China rata-rata hemat biaya, bahkan menawarkan lebih banyak kemampuan daripada kompetitor lainnya.

Sebagai contoh ada model AI R1 dari DeepSeek pada tahun lalu. Setelah populer, model AI tersebut menciptakan persaingan ketat dengan ChatGPT milik OpenAI serta Gemini dari Google.

Baca juga: DeepSeek luncurkan model AI baru dengan efisiensi tinggi

Ketika DeepSeek dapat dijangkau tanpa biaya, kedua AI asal perusahaan AS itu justru harus mewajibkan penggunanya mengakses layanan secara berbayar.

Meski berhasil menarik banyak perhatian pengguna global, Pemerintah China kini berpandangan bahwa model AI termutakhir besutan perusahaan-perusahaan China merupakan aset nasional yang perlu dikendalikan.

Langkah ini dapat membawa perubahan besar di pasar AI, yang akan menyebabkan fluktuasi tingkat biaya bagi banyak bisnis.

Baca juga: DeepSeek pelopori penalaran matematika dengan verifikasi mandiri

Informasi lebih lanjut mengungkapkan bahwa China akan membatasi model AI baik yang bersifat tertutup maupun terbuka. Sementara itu, segala bentuk kebocoran atau pencurian teknologi AI akan dianggap sebagai pelanggaran berdasarkan peraturan keamanan nasional China yang ketat.

Meski begitu, karena masih dalam tahapan pembahasan maka hal ini belum menjadi keputusan yang pasti.

Keputusan antara China akan menerapkan aturan pembatasan ini hanya untuk model AI masa depan atau juga untuk model yang sudah ada, saat ini masih menjadi spekulasi.

Laporan tersebut tidak mengungkapkan kapan aturan-aturan ini akan mulai berlaku. Meskipun perubahan baru ini berpotensi meningkatkan ketegangan antara China dan AS dalam hal perang dagang.

Baca juga: DeepSeek China luncurkan kotak hitam AI dan dorong transparansi

Baca juga: DeepSeek dikabarkan akan rilis agen kecerdasan buatan pada akhir 2025

Penerjemah: Livia Kristianti
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |