Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini mengingatkan bahwa keindahan alam dan keanekaragaman hayati menjadi faktor penting dalam daya saing destinasi wisata Indonesia.
Dia menyampaikan hal itu, karena saat ini realitas di lapangan justru sebaliknya, di mana pariwisata bergerak hanya ke arah pembangunan hotel dan restoran mewah yang menekan ekosistem asli.
"Pariwisata kita akhir-akhir ini wajahnya menjadi homogen, semua berlomba dengan restoran dan hotel bintang 5 di kawasan wisata. Tapi budaya dan biodiversity kita lupa untuk dijadikan momentum penguatan," kata Novita di Jakarta, Jumat.
Dia pun mengkritik terhadap arah pembangunan pariwisata dan agribisnis di Indonesia yang dianggap mengabaikan keragaman hayati dan keadilan sosial. Menurut dia, setiap praktik pembangunan harus dilakukan secara adil.
"Kita tidak bisa melakukan pembabatan dan alih fungsi hutan yang jelas-jelas menjadi habitat hewan dengan dalih perkebunan, tambang atau alasan apapun," katanya.
Jika tren ini terus berlangsung dan dibiarkan oleh pemerintah, dia menilai cita-cita Indonesia sebagai negara mega biodiversity dan destinasi ekowisata kelas dunia akan terkikis oleh industri ekstraktif dan pembangunan yang tidak mempertimbangkan lingkungan.
"Dari mana dunia internasional akan percaya dengan eko tourism kita?” katanya.
Selain itu, dia mengingatkan bahwa pembabatan hutan akan mengakibatkan perubahan iklim dan pemanasan global, sebab pohon-pohon yang ditebang merupakan sumber oksigen.
Untuk itu, dia menyerukan agar pemerintah dan lembaga terkait segera memoratorium pengalihan lahan hutan menjadi perkebunan besar atau pembangunan hotel dan restoran, tanpa kajian lingkungan yang memadai.
Menurut dia, proteksi serius terhadap kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi adalah bagian dari strategi pariwisata ekologi. Model pembangunan inklusif, kata dia, tidak boleh mengusir satwa atau mengabaikan masyarakat adat demi investasi jangka pendek.
"Pengembangan pariwisata dan agribisnis harus berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan dan keadilan sosial. Indonesia butuh investasi tetapi investasi yang menghargai alam, budaya, dan manusia," kata dia.
Baca juga: Anggota DPR: Wajar 13 Tahun upayakan "nol" putus sekolah
Baca juga: Anggota DPR: Standar mutu nasional jadi modal strategis bagi UMKM
Pewarta: Bagus Ahmad Rizaldi
Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































