Jakarta (ANTARA) - Akhir tahun datang hampir selalu dengan pola yang sama. Kalender menipis, hujan turun lebih sering, dan lini masa mulai dipenuhi koper, tiket, potret kebersamaan, serta kalimat reflektif yang terasa seragam.
Seolah ada kesepakatan tak tertulis yang dipahami bersama: akhir tahun harus diisi dengan liburan, perenungan, dan perayaan. Bukan sekadar pilihan, melainkan rangkaian ritual yang nyaris wajib dijalani.
Dalam beberapa tahun terakhir, akhir tahun tidak lagi sekadar penanda waktu. Ia menjelma momen sosial yang sarat makna simbolik.
Liburan menjadi tanda keberhasilan mengelola hidup, refleksi menjadi bukti kedewasaan, dan pesta menjadi penegasan bahwa kita masih mampu merayakan diri. Semua itu hadir, bukan hanya sebagai pengalaman personal, tetapi juga sebagai pesan yang disampaikan ke ruang publik.
Ritual ini bekerja halus, tanpa paksaan formal. Tak ada aturan tertulis, namun tekanannya nyata. Mereka yang bepergian dianggap “mengisi hidup”, sementara yang memilih diam di rumah sering kali merasa perlu memberi penjelasan.
Seakan beristirahat, tanpa agenda besar adalah kekosongan yang harus dibenarkan. Dalam situasi ini, akhir tahun perlahan bergeser dari ruang memilih menjadi ruang mengikuti.
Media sosial mempercepat dan menguatkan pergeseran tersebut. Lini masa menjadi etalase akhir tahun: foto bandara, potret senja di objek wisata, potongan refleksi diri, hingga dokumentasi pesta penutup tahun.
Semua tersaji rapi, estetik, dan seolah selesai. Di baliknya, ada standar tak kasatmata tentang bagaimana akhir tahun seharusnya dijalani.
Masalahnya, standar itu cenderung seragam, sementara hidup tidak pernah demikian. Tidak semua orang berada dalam kondisi yang sama.
Ada yang lelah, ada yang berduka, ada yang sedang bertahan tanpa banyak cerita. Ritual sosial akhir tahun kerap tak memberi ruang bagi keragaman pengalaman itu. Ia lebih sibuk menampilkan gambaran ideal ketimbang mendengarkan kenyataan.
Di titik inilah akhir tahun layak dibaca ulang. Bukan sebagai kewajiban kolektif, melainkan sebagai fenomena sosial yang berulang.
Mengapa pola ini terus direproduksi? Mengapa liburan, refleksi, dan pesta terasa harus ada, seakan tanpa itu pergantian tahun menjadi kurang sah?
Liburan dan refleksi
Dalam kajian sosiologi, liburan dapat dibaca, bukan sekadar aktivitas rekreatif, melainkan praktik sosial yang sarat makna simbolik.
Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu menyebut bahwa gaya hidup, termasuk cara seseorang berlibur, sering kali berfungsi sebagai penanda kelas, selera, dan posisi sosial. Objek wisata, cara menikmati perjalanan, hingga narasi yang dibangun darinya menjadi bentuk distinction, pembeda yang bekerja halus, namun efektif.
Di titik ini, liburan tidak lagi berdiri sebagai jeda dari rutinitas, melainkan sebagai investasi makna. Ia menjadi modal simbolik yang dapat ditampilkan dan ditukarkan di ruang sosial, terutama melalui media digital. Foto perjalanan, cerita pengalaman, dan penanda lokasi bukan sekadar dokumentasi, melainkan pernyataan: tentang kemampuan, akses, dan gaya hidup.
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































