Nakhon Ratchasima (ANTARA) - Dari arus sungai di kampung ke podium Asia Tenggara, dari riak permainan ke gelombang prestasi. Beginilah perjalanan yang ditempuh Siti Aisyah hingga mengharumkan nama Indonesia.
Nama Siti Aisyah mendadak menjadi perbincangan di arena para renang ASEAN Para Games (APG) 2025 Thailand, di Aquatic Center, 80th Birthday Anniversary Stadium, Nakhon Ratchasima.
Dalam umur yang masih belia, 15 tahun, dan berstatus debutan, atlet putri para renang Indonesia itu tampil tanpa beban, berenang tanpa gentar, dan pulang membawa dua medali emas serta tiga perunggu.
Prestasi tersebut tak hanya melampaui target pribadi, tetapi juga menegaskan lahirnya talenta masa depan dari lintasan air bagi tim Merah Putih.
Sebagai yang termuda di tim para renang Indonesia, dia tampil di lima nomor lomba dan mencatat hasil terbaik pada nomor 100 meter dan 200 meter gaya punggung kelas S14.
Dua emas itu terasa istimewa karena salah satunya diraih dengan mengungguli perenang unggulan Thailand, Nattharinee Khajhonmatha yang selama ini memegang rekor di kelas tersebut.
Debut di ajang sekelas ASEAN Para Games tak membuatnya gentar, justru menjadi panggung pembuktian.
Keberhasilan Aisyah turut memperkaya perolehan medali kontingen Indonesia yang tampil solid sepanjang perhelatan.
Di tengah ketatnya persaingan para renang Asia Tenggara, atlet muda asal Kota Padang, Sumatera Barat, itu mampu menjaga konsistensi sejak babak penyisihan hingga final, mengayuh air dengan irama tenang dan dorongan keyakinan.
"Awalnya hanya menargetkan satu nomor saja, saya hanya mengikuti arahan pelatih dan berusaha maksimal, soal menang atau kalah belakangan," ujar dia.
Baca juga: Para renang sumbang tujuh medali emas pada hari terakhir lomba
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































