Jakarta (ANTARA) - Board Chair Developing Countries Vaccine Manufacturers Network (DCVMN), Adriansjah Azhari, menjadi salah satu sosok penting di balik perjuangan dunia, termasuk Indonesia, dalam memperoleh vaksin saat masa pandemi COVID-19.
PT Bio Farma (Persero) dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, menyebut Board Chair DCVMN periode 2023–2025 Adriansjah Azhari berasal dari Bio Farma.
Adriansjah pertama kali bergabung di kepengurusan DCVMN sebagai Executive Committee Member periode 2020 - 2023, saat COVID-19 menghantui dunia.
"Jadi, ketika saya masuk menjadi board member yaitu saat-saat dunia dilanda pandemi. Itu merupakan suatu kondisi di mana ketersediaan vaksin pandemi itu sangat terbatas," katanya di sela acara '26th DCVMN AGM di Bali', Rabu (29/10).
Baca juga: GAVI puji kemajuan pesat imunisasi mandiri di Indonesia
Adriansjah mengatakan, saat itu belum ada vaksin COVID-19 yang komersial, sehingga mendorong kebutuhan suatu perkembangan vaksin yang cukup cepat untuk mengatasi pandemi.
"Di situlah DCVMN bergerak, bagaimana kita bisa membuat suatu vaksin dan berkolaborasi dengan berbagai pihak luar. Suatu industri berkolaborasi dengan pihak-pihak dari Eropa, bagaimana bisa membawa teknologi yang ada di negara-negara maju bisa dikeluarkan ke negara-negara berkembang," katanya.
Menurutnya, negara-negara yang berkembang seperti Indonesia, memiliki kemampuan kapasitas yang luar biasa untuk mendorong ketersediaan vaksin di masa pandemi.
Sebelum menjadi Board Chair DCVMN, Adriansjah dan tim mencari upaya bagaimana bisa menyediakan vaksin dengan cepat. Selain itu, bagaimana DVCMN bisa secara adil dan rata memberikan vaksin tersebut.
Baca juga: Kemenkes dan PAHO paparkan mekanisme pendanaan vaksin regional
"Dulu kan di Indonesia kita ke Sinovac, kemudian kita ada mengembangkan sendiri. Itu memang salah satu upaya-upaya negara yang secepatnya kita bisa mendapatkan vaksin untuk kebutuhan negara," kata Adriansjah.
Setelah ia terpilih menjadi Board Chair, salah satu fokus utamanya adalah mempertahankan sustainability dari vaksin tersebut.
Hal itu mendorong Adriansjah membentuk training untuk mendapatkan expertise di bidang vaksin. Selain itu, pihaknya membentuk kelompok kerja untuk menyusun pola penelitian yang terstruktur.
Saat pandemi COVID-19 melanda, kata Adriansjah, ketersediaan bahan baku menjadi rebutan. Hal itu yang mendorong DVCMN membuat skema bagaimana bisa menghasilkan vaksin dengan tidak terganggu oleh ketersediaan bahan baku.
Baca juga: Memperkuat Kolaborasi Global untuk Membangun Ekosistem Vaksin yang Tangguh dan Berkelanjutan
"Pandemi adalah suatu kondisi di mana penyakit datang tiba-tiba dan belum siap dengan suatu upaya yang baik, preventif, atau apapun. Jadi makanya kita belum siap," katanya.
Belajar dari itu, Adriansjah melihat perlu adanya regional yang bisa menghasilkan vaksin, misalnya di ASEAN.
Ia berharap itu bisa dilakukan, agar jika terjadi pandemi regional tersebut dapat menghasilkan produk vaksin secara mandiri.
Pria yang menjabat sebagai Kepala Indonesia Healthcare Institute dan Pengawasan Mutu di Bio Farma itu mengatakan pihaknya telah mendapatkan bantuan, baik dari pemerintah maupun dari pihak Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) untuk mengembangkan platform m-RNA.
Baca juga: Menkes tekankan kolaborasi ekonomi untuk kesehatan global
"Jadi, kita sedang membangun infrastruktur untuk fasilitas produksi yang kita harapkan bisa digunakan untuk mengantisipasi pembuatan vaksin pandemi, dengan platform mRNA tadi," ujarnya.
Ia menyampaikan bahwa apabila suatu saat terjadi kondisi pandemi, Indonesia sudah siap memproduksi vaksin secara mandiri.
Menurutnya, dengan adanya dukungan dari pihak luar, produksi dapat dilakukan di dalam negeri sehingga mampu menghasilkan vaksin dengan ketahanan yang baik dan memperkuat kemandirian Indonesia dalam menghadapi pandemi.
Baca juga: Bio Farma terpilih Board Chair DCVMN, perkuat jejaring produsen vaksin
Pewarta: Andi Firdaus
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































